tetes-tetes air mata telah mengurai jadi satu dengan air liurku
serasa tak ada gunanya lagi di simpan
buang jauh... jauh sekali
ku rasa luka pertama telah mulai sembuh dan membaik
meski.....
masih ada bekas luka yang tak mungkin terhapus
aku yakin... aku bisa menepisnya
tapi apa?????
ternyata kaummu itu sadis
tak punya hati.......
apa pedulimu?????
hanya menjauh dengan segala alasan agama
jangan... jangan dustai aku.......
aku sudah tahu
telah lama aku mencoba percaya dengan bibir-bibir sesamamu
tapi apa????
kalian sama brengseknya..........
kau anggap apa aku ini????
kecil? jelek? tak menarik?
lalu apa?
lalu apa maumu???
dia yang tercantik, sexy, atau yang bagaimana?
sungguh.......
lalu bagaimana dengan kaumku yang biasa????
bangsat!!
kau yang bangsat!!!
murka bukan tipeku
tapi... kau dan semua kaummu yang mengajariku
Mengenai Saya
Jumat, 30 Januari 2009
terluka
Senin, 12 Januari 2009
always luv u !
Crazy [puisi karyaku]
Isaac Newton
Isaac Newton lahir di Woolthorpe, Lincolnshire, Inggris, pada Natal tahun 1642. Pada malam yang dingin itu, bayi yang lahir prematur itu tampaknya tidak mungkin bertahan hidup. Namun, perlahan-lahan dia bertambah besar dan kuat. Tapi tahun-tahun pertama hidupnya merupakan perjuangan yang sulit. Dua minggu sebelum Isaac lahir ibunya menjadi janda. Meskipun dibantu neneknya, ibunya tetap kesulitan merawat Isaac karena sang ibu juga harus mengurus ladang dan peternakan mereka, sementara Perang Saudara masih berkecamuk di Inggris waktu itu.Beberapa tahun kemudian, ibunya menikah dengan seorang pendeta dari Desa North Witham, tidak jauh dari tempat tinggal mereka, tapi Isaac tetap tinggal di Woolthorpe dengan neneknya. Dia sering mengunjungi ibunya dan dengan lahap membaca buku-buku dari perpustakaan ayah tirinya, selain membaca Alkitab secara teratur.
Isaac kemudian bersekolah di King's College di Grantham, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia anak yang rajin dan suka belajar. Ketimbang bermain-main seperti anak laki-laki lainnya, ia lebih suka membuat model-model kincir angin atau kereta. Bukan hanya ukuran mainan itu proporsional, bahkan semua komponennya juga bisa berfungsi.
Untuk kedua kalinya ibunya menjadi janda tatkala Isaac berumur 14 tahun. Isaac berhenti sekolah karena ia harus bekerja di ladang dan di peternakan untuk menghidupi ibunya dan ketiga adik tirinya yang lebih muda dari dia. Tentu Isaac sangat kehilangan sekolahnya dan ibunya menyadari itu. Ketika King's College bersedia membebaskan biaya sekolah Isaac karena kepandaian dan keadaan keluarganya yang miskin, Isaac kembali sekolah sampai selesai. Semua guru dan temannya mengagumi pengetahuan Isaac tentang Alkitab.
Kemudian Isaac melanjutkan pendidikannya ke Trinity College di Universitas Cambridge dengan niat menjadi pendeta gereja Inggris. Lagi-lagi, ia mengalami kesulitan hidup. Untuk membiayai sekolahnya, ia terpaksa melakoni berbagai pekerjaan hingga berjam-jam setiap hari, termasuk bekerja untuk profesornya. Pengetahuan Isaac tentang Alkitab tetap mengesankan orang-orang di sekitarnya.
Pada masa itu gagasan para cendekiawan Yunani masih menguasai apa yang diajarkan dalam bidang ilmu sehingga temuan ilmiah mutakhir sebagian besar diabaikan. Ini sangat menjengkelkan Isaac yang sangat yakin bahwa gagasan dalam bidang ilmu harus diuji dan baru diterima jika kegunaannya dapat dibuktikan. Dia sepenuhnya mendukung metode eksperimen dalam ilmu.
Isaac lulus tahun 1665, tak lama sebelum wabah pes yang dikenal sebagai Black Death melanda London. Semua universitas ditutup selama wabah merajalela. Isaac kembali ke peternakan keluarganya yang sekarang diurus oleh adiknya. Di situ, Isaac melanjutkan studi dan penelitiannya mengenai teorema binomial, cahaya, teleskop, kalkulus, dan teologi. Dia juga menyelidiki gaya berat bumi setelah, kata orang, melihat buah apel jatuh dari pohon di kebunnya. Tapi dia baru bisa memecahkan teka-teki ini beberapa tahun kemudian. (Beberapa pakar mempertanyakan cerita sebuah apel tersebut.
Newton menerapkan teorema binomialnya pada deret tak hingga dan dari situ mengembangkan kalkulus, bentuk matematika baru yang revolusioner. Dengan kalkulus ini, untuk pertama kalinya orang bisa menghitung dengan cermat luas bidang di dalam suatu ruang berisi lengkung, dan menghitung laju perubahan suatu kuantitas fisik terhadap kuantitas fisik lainnya.
Sistem matematika serupa juga dikembangkan oleh ahli matematika Jerman, Gottfried Leibniz. Ini menyebabkan timbulnya perdebatan tentang siapa yang lebih dulu menemukan sistem tersebut. Kedua belah pihak saling menuduh telah mencuri hasil kerja pihak lain. Perdebatan itu berlangsung cukup lama dan itu merupakan masa yang penuh tekanan baik bagi Newton maupun Leibniz. Baru beberapa tahun kemudian disepakati bahwa keduanya mengembangkan kalkulus sendiri-sendiri pada waktu yang hampir bersamaan. Tidak ada yang berlaku curang.
Ketika Universitas Cambridge dibuka kembali, Newton melanjutkan pendidikannya untuk memperoleh gelar sarjana, sambil mengajar dan melakukan penelitian.
Dia menggunakan prisma untuk menunjukkan bahwa cahaya matahari terdiri atas berbagai warna, yang kita kenal sebagai warnawarni pelangi. Ini membuktikan bahwa pendapat orang Yunani kuno mengenai cahaya adalah keliru. Pada masa Newton, perkembangan astronomi sangat terhambat oleh lensa teleskop yang menguraikan sebagian cahaya matahari menjadi warna-warna yang tak diinginkan sehingga mengaburkan pandangan. Meskipun bukan orang pertama yang mempertimbangkan penggunaan cermin lengkung sebagai pengganti lensa, Newtonlah yang pertama berhasil membuat teleskop dengan menerapkan asas ini--asas yang sampai sekarang masih dipakai dalam banyak jenis teleskop.demikianlah sejarah singkat tentang teknologi yang di gagas oleh sir isaac newton. semoga kaum muda masih sanggup menandingi kecerdasannya
Kisah Umar bin Abdul Aziz
Simaklah sekelumit sepak terjang yang pernah dilakukan oleh Umar bin Abdul Azis. Ternyata bagi sang Khalifah, ”Jabatan” tidak dijadikan sebagai sarana memperkaya diri. Bahkan, kekayaan Umar bin Abdul Aziz justru berkurang setelah dia menjabat sebagai khalifah. Di awal masa jabatan, kekayaannya mencapai 40.000 dinar (sekitar Rp 400 miliar, sekarang 1 dinar sudah hampir sama dengan Rp. 1 juta). Di akhir masa jabatan, kekayaannya justeru hanya 400 dinar (kurang lebih Rp 400 juta). Mungkin juga , inikah ”ilham” yang diterapkan oleh pemerintah sekarang dengan membentuk KPK ?
Kesederhaan Umar bin Abdul Aziz juga ditularkan kepada anak dan istrinya. Sang istri bernama Fatimah, seorang anak pejabat pemerintah. Sang belahan jiwa memiliki banyak perhiasan pemberian orang tuanya. Sesaat setelah dilantik dia berkata kepada istrinya "Pilihlah olehmu, kau kembalikan harta perhiasan itu ke Baitul Maal (kas negara) atau kau izinkan saya meninggalkanmu untuk selamanya". Sebagai istri yang solehah, Fathimah menjawab, "Saya lebih memilih engkau daripada harta dan perhiasan ini, bahkan jika lebih dari itu pun saya tetap memilih engkau." Pun, Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para pejabat negara dan meminta harta kekayaan yang pernah diperoleh ketika menjabat untuk segera dikembalikan ke Baitul Maal. Walau ditentang, Umar bin Abdul Aziz tak bergeming, tanpa ragu ia meneruskan kebijakan menyita harta para pejabat.
Cara yang ditempuh Umar bin Abdul Aziz terbukti manjur. Para pejabat tak berani korup dan mereka layak dijadikan suri tauladan. Harta kekayaan tidak hanya beredar diantara orang kaya saja. Orang-orang miskin mendapat akses bantuan dan modal ke Baitul Maal. Tidak terjadi kezaliman penguasa terhadap rakyat. Kepercayaan dan dukungan masyarakat kepada pemerintah semakin menguat.
Nah, bila kita ingin pejabat pemerintah kebingungan mencari orang miskin di negeri ini seperti zamannya Umar bin Abdul Azis, angka korupsi pasti ”turun drastis”, sikap mental masyarakat menjadi positif. Maka sudah waktunya mencari sosok pemimpin dan pengambil keputusan seperti Umar bin Abdul Aziz. Sosok yang tunduk patuh pada Allah dan Rosul-Nya, bersih, tidak " kemaruk" (pengejar harta dan tahta) dan ”aji mumpung”, berpihak pada yang lemah, dan berani mengambil keputusan. Bila ternyata sosok seperti Umar bin Abdul Azis tidak ditemukan di zaman sekarang ini, jangan pernah terlalu berharap kepada Pemimpin kita, mulai dari Lurah, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur sampai Presiden pun, rasanya tidak mungkin membawa ”perubahan” berarti, apalagi untuk mensejahterakan masyarakat. Hanya sistem ke”khilafah”an Islam-lah yang akan mampu melahirkan kembali sosok-sosok seperti ”Umar bin Abdul Azis”. Sistem ”Khilafah”, akan menerapkan Syariat Islam dalam berbagai aturan publik (termasuk ekonomi), dan terbukti mensejahterakan rakyat, baik muslim maupun non-Muslim. Bukankah Islam adalah ”Rahmatan Lil ’Alamin” ?Wallohu a’lam bish showaab !
Minggu, 11 Januari 2009
TEKNOLOGI di sekitar kita
Tahun 2009 adalah tahun baru yang menyimpan sejuta misteri di balik semuanya. banyak kasus yang belum tersentuhsama sekali bahkan ada yang sudah namun belum terselesaikan sampai ke oyot-oyotnya. seperti internet. mungkin orang kota mengira bahwa internet telah meraja lela dan meracuni satu demi satu kaum adam. namun anggapan itu tidak benar seutuhnya. di berbagai daerah terpencil di jawa timur pun masih terdapat beberapa desa yang ketinggalan jaman. tragisnya itu adalah sekolah yang sama sekali tidak mengajarkan internet pada siswanya. padahal, sisi positive internet sangatlah banyak. kita bisa mengakses berbagai informasi yang kita butuhkan. dari info prasejarah sampai info terkini. dengan adanya internet, kita bisa lebih mudah untuk mencari bahan dalam menyelesaikan tugas. dan dengan internet pula kita bisa meng-ekspose ide-ide cermerlang kita. namun, internet juga memiliki sisi negative yang belum kita ketahui secara rinci.
Kamis, 04 Desember 2008
Kota Impian
ceritaku tentang sahabat yant paling ku sayangi. kami sering telpon, sms, ym-an tau semuanya di dunia maya. aku hanya kenal kakaknya, tapi aku dan dia tak pernah ketemu. aku dengan kakaknya sering berjumpa dulu dan ya..... berbagi ide. lalu aku di kenalkan dengan adiknya yang sekarang menjadi teman di dunia mayaku. aku selalu berdoa ketika sholat, agar Allah SWTmempertemukanku suatu saat nanti. dan aku yakin akan hal itu. semula aku ingin satu sekolahan dengan dia ketika SMA. tapi aku di terima di sekolah yang lebih jauh dan favorit. aku telah mendustai janji kami. lantas, hubungan kami terputus. aku tak bawa hp karena di asrama dan nomorku ganti. aku tak punya harapan lagi untuk bertemu dengannya. Dari kejadian itu, aku dan dia menjadikan kota tempat sekolahnya sebagai kota impian kita berdua. dan suatu saat kita akan berjumpa disana. tapi itu tak pernah terwujud. Akhirnya aku menyerah danaku sadar Tuhan tidak akan memberi ini. tapi........ doa itu terwujud ketika aku hendak bertunangan dengan seorang lelaki yang sangat ku cintai.ini adalah
Kota Impian
hari minggu yang cerah, aku dan heru, pacarku ke mall dan shopping sampai malam. semula kami berangkat berempat. empat pasang maksudnya. aku dan heru, dista dengan izam,rita dengan yoga dan agus dengan ani. kata mereka aku dan heru paling romantis. masak sich???? hari sudah malam, selesai makan aku dan heru pulang duluan. di tengah perjalanan, hpku berbunyi.
"hallo"
tak ada jawaban, aneh
"hallo nich siapa??"
masih sepi. ku coba lagi.
"aduh..... niat gak sich telpon???"
heru melirikku. kemudian dengan lembut menarik hp di tanganku.
"hallo... nich siapa??"
setelah menunggu lama, akhirnya heru mematikannya. bibirku masih manyun tiga senti. heruu tersenyum dan meraih tanganku. aku melihatnya.
"udah... ntar kalo ada lagi gak usah di angkat ya..."
mungkin hanya heru yang bisa mengerti aku. mungkin ini juga yang membuat ke enam temanku berkata kami romantis. sesampainya di rumah aku langsung tidur tanpa memperdulikan apapun.
keesokan harinya, aku duduk dengan tenang di ruang tamu sambil meliha-lihat jadwal padat kuliahku besok. tiba-tiba hpku berdering. no number??? siapa??? aku mengangkatnya.
"hallo"
lama...
"hai..."
tak ada jawaban. akhirnya aku matikan saja. jangan-jangan anak kemaren??? pikirku. aku kesal di misscall. dasar tukang jahil. di tengah-tengah lamunanku itu, ada seseorang mengetuk pintu,
"tok...tok...tok..."
"iya sebentar..."
ku buka. heru...!
"masuk.... sendiri??"
"iya... aku habis reuni BM, kamu?"
" lagi kesel, masak orang itu telpon gak jelas lagi , sebel tau gak sich."
lagi-lagi heru hanya tersenyyum
"udahlah..... kita jalan-jalan aja sekarang. ya...?"
"gak disini ja. aku capek."
"kok gitu sich, kita lihat bintang yuk... yuh lagi cakep-cakep kayak kamu."
"gombal!"
"ngapain gombal... yuk" akhirnya aku dan neru keluar komplek dan jalan-jalan.
"ah... gak ada bintang gini loe..."
"ntar dulu.... sini dech..."
heru memperlihatkanku banyak bintang. indah sekali. padahal hari ini mendung, ketemu ja nih orang. mungkin inilan so sweaat nya Heru, dia selalu menemukan celah ketuka aku marah, sedih atau kesal. kami di jodohkan, semula aku tidak mau. tapi... lama-lama Heru telah mencuri hatiku.
"seneng???"
aku tersenyum, lalu kamu duduk di rerumputan malam. ku sandarkan kepalaku ke bahunya.
"mas heru, tahu gak,,, aku sayang banget sama kamu"
"gombal"
"kok gombal sicch?"
"yah... kalo gitu pasti ada maunya"
"gak jugak. mas, kamu gak kan ninggalin aku kan??? aku gak mau sendiri."
"gak kok, apapun yang kamu mau dan kamu lakuin,aku bakal terima. asal. kamu juga gak ninggalin aku."
aku tersenyum. aku lega mendengar semua itu. aku tak salah mengambil keputusan untuk menerima dia dan memutus hubunganku dengan lelaki lain. dann menjaga jarak dengan kawan lelaki. oh... Heru... I LOVE YOU.
kali ini deringan hpku mengganggu tidurku. nomor itu lagi.
"hallo... kamu ini sipapa sich??"
dia seperti biasanya.
"hai...... jangan gila dech... ngomong, apa aku tutup?"
"hallo...."
"apa? kamu siapa sich?"
"aku.... Edo.."
"edo??? edo siapa??? sorry gak kenal"
aku langsung mematikan hp begitu saja. aku sebel sich. tapi dia ngebel lagi.
"maksud kamu apa sih?? edo siapa? aku gak punya temen edo."
"edo... yang dulu pernah sahabatan sama kamu waktu kelas tiga SMP?"
"WHAAT??? kelas tiga SMP?ya.. mana aku ingetlah.aku dah mahasiswa semester 5 kali ya... kamu salah orang mungkin."
"kamu diana kan??"
"iya..."
"kamu bener-bener gak inget aku??"
"gak... udah deh aku capek."
akhirnya aku menutupnya. dasar manusia aneh. Edo siapa??? hai itu bener-bener buat aku malas. memang dia siapa???
hampir tiap hari anak itu menelponku. terkhir hari ini. ia mengajakku ketemuan di cafe dekat kampusku. untung aku ada di sektar itu, jadi aku menurutinya. aku duduk sendirian. seorang lelaki tinggi putih mendekatiku.
"diana ya..."
"ya... kamu Edo itu ya.."
"iya... aku Edo, kamu dah inget aku??"
"gak.."
"di.... aku Edo, adiknya eris... dulu kita sempet mau satu sekolah, tapi kamu lari ke jakarta. masih inget kota impian kita??? blitar, di..."
aku berpikir, ah.... sahabatku, Edo! yang dulu ... yah..... janji itu? kota impian itu??
aku tertegun. sejahat itu aku dengan temanku sendiri. tiba-tiba hatiku terasa sakit. air mataku tak bisa di bendung.
"edo??? kamu..."
dia tersenyum riang melihatku ingat. kami bercerita panjang lebar. menceritakan suka duka kami tanpa kebersamaan itu. ternyata... Tuhan mengabulkan permohonanku yang dulu. sejak saat itu aku sering keluar dengan edo. aku merasa ada sesuatu yang telah kembali. tapi hal ini membuat heru marah besar saat menjelang rapat keluarga.
"bagaimana dengan rencana pernikahan kalian"
heru menghela napas. memendangku denga tajam. aku tak mengerti.
"tanya saja dengan diana om... aya ke belakang dulu."
sinis dan menusuk hati. aku tak mengerti, papa dan mama melihatku. memberiku isyarat untuk menjelaskannya.
"aku juga pamit dulu ma... pa..."
aku mendekati heru yang sedang merenung di teras depan.
"mas..."
ku pegang pundaknya. tapi dia menepisnya kasar.
"cerita dong mas, aku salah apa??"
"jadi kamu ga ngerti kesalahanmuu dhek??"
aku menggeleng kecil.
"kamu selingkuh ya sama cowok tinggi di cafe sebelah kampusmu itu??"
pasti edo,
"bukan mas, dia sahabat ku, dia sahabat kecilku..."
"apa???"
"mas... aku cuma cinta kamu........"
"bohong, ayo kita menikah kalo gitu, lusa.."
bibirku kelu, maksudnya???? aku tahu heru sedang marah besar.
"kamu bingung kan, ok!! kalo gitu, jangan temui dia lagi. demi cinta dan sayang kamu ke aku"
aku bingung. aku tidak bisa memutuskan hal itu begitu saja. aku dan edo masih baru saja bertemu. aku tidak boleh mendustai dia lagi, itu penghinaan.
"kamu gak bisa jawabkan??? ya... udah... aku pamit duu. assalamualaikum."
"mas......... mas heru... tunggu mas, aku jelasin dulu."
tapi heru terburu pergi dan meninggalan aku dalam keadaan seperti ini. oh... Tuhan kenapa harus begini???
beberapa hari aku hanya bisa berpikir keras. kalau aku memilih heru, itu tak adil untuk edo. tapi kalau aku memilih edo, heru... ah, aku terlalu mencintai dia. akhirnya aku putuskan memilih heru. aku memutuskan hubungan dengan edo. aku tahu ini sakit untuknya.dia selau meng-smsku. tapi aku tak pernah menbalasnya. hatikupun teriris.
"di.... kamu kenapa?? kamu jangan ginidi... aku sayang kamu, masak.. cuma bentar kita ketemu, terus pergi lagi???"
hatiku sakit sekali.
"maaf do.... aku gakbisa."
hingga tiga hari sebelum acara pernukahanku, aku memberanikan diri untuk berbicara dengan heru tentang edo.
"mas..."
"ya... sayang,"
kata-kata itu, lembut sekali. tapi...... menusuk
"aku boleh minta sesuatu gak??"
"boleh... apa?"
wajahnya teduh memandangku.
"biarkan aku menghabiskan waktu sehari saja bersama edo mas, di kota impian, blitar."
wajah itu berpaling.
"mas, setelah ini aku hanya milikmu dan aku tak kan pernah begini lagi. aku cuma sayang kamu dan aku akan menyuruh dia pergi dari kota ini. "
lama...
"ya odah... tapi kamu janji sama aku?"
aku mengangguk, tersenyum. termakasin heruku, kamu bauk sekali.
seharian aku pergi ke blitar bersama edo. serasa sepeti dulu. kami bermain, makan dan nonton. hingga malam hari yang indah. akudan edo berada di atas hotel. hanya berdua.
"di..."
aku menoleh
"aku dah ngganggu kamu ya...."
"kamu kok bicara gitu sich??"
"lusa kamu menikha kan??"
"iya.... itu dah pilihanku do, aku cinta sama heru"
"tapi di... aku juga sangat mencintai kamu dari dulu."
aku bingung kalo sudah begini, pasti begini.
"di...."
"do..... aku gak bisa."
edo terdiam....
"hanya ini yang aku bisa, berdua di kota impiam tidak hidup bersama. kita sudah berbeda do..."
aku tahu ini sangat sakit untuknya.
"baiklah... tapi ada satu permintaan
"apa??"
"kiss for my best friendship"
aku termenung.....
"kamu..."
"tapi kalo gak juga gak pa-pa. just for friendship, not more. setelah ini aku akan pergi"akhrnya aku mengangguk. kami berciuman. ciuman untuk sahabat, tidak lebih. ejak saat itu aku dan edo tidak pernah bertemu lagi. pertemuan terakhir kali saat pernikahanku. aku tahu senyumannnya itu paksaan. tapi ekali lagi maaf do... aku harus setia dengan lelaki yang lebih ku cintai dan lebih mencintaiku. heru, suamiku. kota impian... selamat tinggal. tapi bagiku, kau tetap kota impian.....!
SELESAI

